"Aku tak Mulia. Kau pun tak Mulia. KetidakMulianmu menjadi pelengkap ketidakMulianku , hingga kita akan Mulia , meskipun hanya bagi kita berdua. Biarlah Allah yang Maha Mulia , yang berhak menilai keMuliaan kita."


Tuesday, April 24, 2012

Syahid di tiang Salib



Suatu saat, Rasulullah s.a.w ingin mengetahui gerak-gerik kaum kafir Quraisy maka beliau mengirim sepuluh pejuangnya untuk melakukan misi tersebut. Di antara sepuluh pejuang yang diutus oleh Rasulullah Saw tersebut adalah Khubaib bin Ady dan Zaid bin Ditstsinah. Mereka dipimpin oleh Ashim bin Tsabit. 


Ketika mereka tiba di suatu tempat yang berada di antara Asfan dan Mekah, suku Hayyan dari kabilah Hudzail sempat melihat mereka, lalu suku Hayyan itu mengintai para pejuang utusan dan berhasil membunuh delapan orang di antara mereka sedang sisanya Khubaib bin Ady dan Zaid bin Ditstsinah berhasil mereka tangkap. Setelah itu, keduanya dijual oleh suku Hayyan kepada kaum kafir Quraisy, lalu mereka menyiksa Zaid hingga tewas sedangkan Khubaib masih dibiarkan hidup dengan 2 pilihan, mati di tiang salib atau kembali pada agamanya semula (kafir).


Pada saat hendak dihukum salib, Khubaib meminta izin kepada mereka untuk melaksanakan solat tetapi mereka tidak mengizinkannya dengan harapan agar Khubaib mahu kembali kepada kekafirannya. Tetapi akhirnya Khubaib tetap melakukan solat meski tidak diizinkan olah kaum kafir Quraisy. Khubaib berkata, ”Demi Allah, seandainya kalian tidak mengancam untuk membunuhku maka nescaya aku akan tambah lagi solatku.”


Kemudian ia pun mendoakan mereka, ”Ya Allah, hitunglah jumlah mereka dan bunuhlah mereka semuanya!” Karena didoakan seperti itu maka kaum kafir Quraisy pun segera menyalibnya, dan Khubaib sempat melantunkan sebuah syair sebelm kematiannya menjemput,


"Aku tidak peduli bila harus dibunuh
karena aku seorang muslim
Karena setelah itu,
tempat tinggalku berada di sisi Allah
Sedang hidup seperti itu sungguh indah
Dan Mungkin juga nanti akan bertemu
dengan para kekasih tercinta."


Setelah itu kaum kafir quraisy mencelah ucapan Khubaib tersebut, ”Apakah kamu ingin Muhammad menggantikan tempatmu? Sedangkan kamu sendiri akan sehat dan senang berada di tengah keluargamu?”


Khubaib menjawab, “Demi Allah, aku sama sekali tidak ingin berada di tengah keluargaku sambil menikmati indahnya dunia sedangkan Rasulullah Saw sedang tersakiti walau tertusuk duri sekalipun.”


Abu Sufyan yang sempat mendengar jawaban yang terlontar itu lalu, “Demi Allah, aku tidak pernah melihat seorangpun yang mencintai orang lain seperti cintanya sahabat Muhammad kepadamya.”



Selesai bercakap-cakap, anak-anak panah kaum kafir Quraisy segera berhamburan melesat ke tubuh Khubaib dan tombak Abu Maisarah dari bani Abdud Daar yang mengakhiri nyawa Khubaib, maka ia pun pergi menuju Tuhannya sebagai pahlawan syahid dengan gagah berani.


Dipetik dari Buku “100 Kisah Teladan Tokoh Besar” karya Muhammad Sa’id Mursi & Qasim Abdullah Ibrahim



No comments:

Post a Comment

Bacalah..

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...