"Aku tak Mulia. Kau pun tak Mulia. KetidakMulianmu menjadi pelengkap ketidakMulianku , hingga kita akan Mulia , meskipun hanya bagi kita berdua. Biarlah Allah yang Maha Mulia , yang berhak menilai keMuliaan kita."


Friday, December 21, 2012

Sang Pemberani



Diketika aku sedang beretorik melaung panjang kata-kata juang. Aku disapa seorang pemuda,seorang yang pernah kusua tulisannya sebelum ini, Sang Pemberani namanya.

"Assalamua'laikum, apa khabar? Jangan lupa tambah ilmu Jihad juga ya, sebagai persediaan kita bersama ", pesan Sang Pemberani. Aku membalas setuju lalu mengucap selamat berjuang pada Sang Pemberani itu.

Tatkala sang pemberani meneruskan layarnya ke timur laut mengejar cinta abadi, pada yang sama aku sibuk dengan duniawi. Masih bermimpi dalam kegelapan walhal api jamung dan lampu suluh di sisiku.

Hari berganti hari, Sang Pemberani tidak terlihat lagi.Ke mana menghilang ku tidak tahu. Lalu aku lupakan saja Sang Pemberani itu. Turut pada pesanannya.

Pada satu malam musim langit menangis, sedang aku diam melayani sejuk dan sepi. Rasanya aku terpanggil sesuatu.Serta-merta aku terpana. Tidak sangka, ku lihat darah dikirim dari timur laut. Ah, darah Sang Pemberani-kah ini? .. Kawan, apa telah terjadi padamu?

Berderau ardenalin di sukma tubuhku. Tegak bulu roma. Teka teki hidup apa lagi ini?

Waima, ada sesuatu tertulis pada darahnya. Sepertinya satu nasihat, menjadikan aku serta merta keluar dari lena yang panjang. "Mati itu sahabat. Dia mengikutimu walau terkadang kamu melupakannya. Berkenalanlah dengannya sebelum ia menemui mu. Mati membawa kita bertemu pencipta kehidupan. Mati bagi mereha tkan seorang syuhada yang penat bertempur fisabillah,"

---
Pesanan terakhir rupa-rupanya.'Subhanallah! Kau telah syahid Sang Pemberani! Tempik hatiku..

Dalam pada itulah ku mula rasa galau. Terlampau galau menyakitkan sanubari. Sungguh. Ini soal memahami rasa, memaknai hangatnya rindu, pekat dan perihnya gejolak cemburu terhadap mereka yang mengejar cita-cita luhur ke syurga. Melihatmu pemuda biasa yang berani mencari keredhaan tuhan.Terlalu jauh untuk dibandingkan dengan diriku. Allah, masihkah wahan itu utuh di hatiku?

Aku cuma mampu menitiskan air mata, menangis bersama langit sambil menyaksikan diri yang tidak sepertimu.Aku tidak mampu mengangkat senjata. Tapi percayalah, dengan tinta aku akan berjuang. Bangga kerana pernah mengenalimu wahai sahabatku Sang Pemberani.Walau belum pernah aku kenal wajahmu. Telah tumbuh satu pohon dari dadamu, yang memanggil aku untuk tumpang berteduh. 




Terima kasih Sang Pemberani.
Damailah engkau di sisi tuhan..


3 comments:

  1. Dia sudah kembali kepada Penciptanya. Jalan pulangnya sangat indah, mashaaAllah. Apabila mengingatnya, mata akan berkaca-kaca... Rindu...
    Semoga Allah menerima beliau sebagai shahid di sisiNYA. Allahumma aameen ya Rabb !!!

    ReplyDelete
  2. assalam, salam kenal dan salam ukhuwah dari bunda..

    ReplyDelete

Bacalah..

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...